KAPITEL JENDERAL XXII:
Perayaan Ekaristi Pembukaan
Pengatar
Tadi pagi ktia telah berkumpul untuk memulai secara resmi Kapitel Jenderal XXII Kongregasi kita. Secara resmi kita telah dibentuk dan disatukan untuk melaksanakan tugas berkapitel untuk pekan-pekan mendatang. Perayaan ini menjadi puncak dari semua persiapan yang telah kita lakukan, di dalam Kuria Jenderalat dan seluruh entitas Kongregasi, untuk mewujudkan suasana yang lebih baik demi berlangsungnya peristiwa ini dalam hidup Kongregasi kita.
Akan tetapi kita menyadari, bahwa keberhasilan Kapitel ini bukanlah semata hasil dari keputusan dan usaha kita: semua ada kita, kekuatan kita dan pengetahuan kita, kita satukan dan persembahkan ke dalam tangan Tuhan, supaya hati kita menjadi bebas dan terbuka untuk mendengarkan Roh-Nya dan dapat melaksanakan kehendak-Nya. Maka, sebagai para kapitulan resmi, dan dalam persatuan dengan para konfrater di Kongregasi, kita membuka diri pertama-tama untuk mendengarkan Tuhan dan Guru kita, belajar dari Hati-Nya dan bersama memecahkan roti persatuan, kasih dan hidup.
Kita bawa serta seluruh tenaga dan kegembiraan kita, tetapi juga kesulitan-kesulitan dan kegagalan pribadi serta para konfrater yang lain. Pada awal perayaan ini, marilah kita mohon belaskasihan Tuhan, agar Dia mengampuni kita dan mempersatukan kita, serta membaharui kita dengan Roh-Nya.
*****
Homili:
Bacaraan.-bacaan yang telah kita dengarkan merupakan undangan bagi kita untuk memulai pertemuan kita ini dengan penuh iman dan kepercayaan. Inilah saat yang sangat penting bagi hidup Kongregasi kita, supaya kita melulu menyandarkan diri kita pada kehadiran dan karya Roh-Nya.
Bacaan Injil St. Yohanes yang telah kita dengarkan, bukanlah sekedar cerita tentang penampakan Tuhan terhadap sekelompok para rasul, tetapi ingin menarik perhatian kita atas cara baru kehadiran-Nya dalam komunitas yang telah dibentuk-nya. Marilah kita menyimak kembali teks tersebut sebagai Sabda Allah bagi kita, pada pembukaan Kapitel Jenderal XXII Kongregasi kita ini, agar Sabda tersebut membantu kita untuk membentuk hati kita untuk menyambut kedatangan Tuhan dan Guru kita.
Injil menceritakan bahwa para rasul sedang menjala ikan, artinya sedang melaksanakan tugas harian mereka dan tugas perutusan yang telah dikatakan Yesus pada saat mereka dipanggil: “Aku akan menjadikan kami penjala manusia” (Mrk 1:17). Dalam tugas perutusan itu, mereka pasti mengalami saat-saat yang penuh kegembiraan dengan membawa hasil yang baik; tetapi pada malam itu, malam yang gelap serta penuh kepenatan dengan kerja yang tidak membawa hasil.
Yesus, yang sebelumnya selalu bersama dengan mereka di jalan-jalan di Palestina, tidak hadir di tengah-tengah mereka. Hai l itu tidak berarti bahwa Dia telah meninggalkan mereka; kalaupun Dia menampakkan diri, tetapi tidak mudah untuk dikenal. Akan tetapi, para rasul memiliki perasaan yang peka untuk menangkap kata dari orang yang tidak dikenal di tepi pantai itu. Dia telah memperhatikan sejak semua usaha mereka dan memberikan perintah untuk merubah cara kerja mereka. Hasilnya sungguh menakjubkan: Kehadiran orang yang tidak dikenal itu menghasilkan hasil yang melimpah, pas pada saat usaha, pengalaman dan kemampuan manusia tidak menghasilnya apa-apa.
Pada saat ini, salah seorang dari kelompok itu (seseorang yang mengetahui benar kasih Sang Guru kepada murid-murid-Nya) menghubungkan antara hasil tangkapan mereka dengan kata-kata orang di pantai itu: “Itu Tuhan!” Pengenalan itu mengubah kelompok tersebut.
Kemudian, Tuhan menyediakan makanan dan mempersatukan mereka di sekitar-Nya. Di atas meja terdapat pemberian-Nya, tetapi juga hasil dari jerih payah para rasul. Dari pertemuan tersebut mereka akan pergi untuk melanjutkan tugas perutusan mereka, dan mereka akan tahu bahwa Tuhan akan selalu mereka jumpai dalam setiap pantai kehidupan dunia ini.
Dengan merenungkan bagian akhir dari Injil Yohanes ini, yaitu pertemuan Yesus dengan para murid di tepi pantai menghubungkan peristiwa hidup Yesus dengan kegiatan para murid-Nya, dan membuka cakrawala kehidupan dan perutusan Gereja. Dia terus menerus hadir dan menyertai para murid-Nya, memberikan semangat, menunjukkan arah jalan dan membantu mereka untuk memberi hasil pada tugas perutusan mereka.
Pada hari ini, di pinggir kota Roma, di mana kita sekarang berkumpul, Tuhan menunggu kita untuk mengalami pengalaman ke-5 murid-Nya itu. Kita ingin mencari saat-saat esensial dari pertemuan kita ini.
Kita datang dari berbagai penjuru dunia, dengan berbagai macam pengalaman dan keberhasilan dari tugas perutusan kita, tetapi juga adanya kelelahan dan ketidak-tahuan, kesulitan dan ketidak-pastian tentang hari esok. Pertanyaan Yesus kepada kita saat ini: Apa yang akan kamu makan? Apa yang kamu miliki dan kamu tawarkan kepada dunia? Apa yang kamu bawa?
Dia mempunyai kebiasaan semacam itu untuk memulai dialog: dalam sebuah pertanyaan yang membuat kita untuk melihat diri kita sendiri dalam kehadiran-Nya … dengan melihat kepada-Nya. Pertanyaan-pertanyaan-Nya bergaung di dalam Injil pada saat-saat yang penting:
* Pada kedua murid pertama: Apa yang kamu cari? (Yoh 1:38);
* Pada ibunda-Nya pada pesta perkawianan di Kana: Apa yang kau maui dari-Ku? (Yoh 2:4);
* Sebelum peristiwa pergandaan roti: Berapa roti yang kamu miliki? (Mrk 6:38);
* Sebelum pengakuan iman Petrus: Dan kamu, siapakan Aku ini? (Mrk 8:29);
* Kepada Maria Magdalena: Wanita, mengapa kamu menangis? (Yoh 20:13);
* … Dialog dengan wanita Samaria (Yoh 4).
Dengan terang sabda ini kita akan melihat laporan-laporan yang akan kita dengarkan selama Kapitel ini tentang keadaan aktuan Kongregasi dan entitas-entitasnya. Laporan-laporan itu bukanlah sekedar laporan administratif, tetapi merupakan suatu penyadaran di hadapan Tuhan yang mengunjungi kita, dan dari sabda-sabda-nya yang terlah kita wartakan di dalam dan melalui kita. Hal ini juga merupakan kesempatan kita untuk menilai dengan cara pandang-Nya yang penuh belas kasih karena usaha kita yang sia-sia, melalui jerih payah dan kesalahan kita, juga melalui aktivitas kita tanpa kehadiran-Nya.
Pada bagian kedua adalah keterbukaan dan perhatian kita terhadap suara-suara lain. Dalam Kongregasi, kita memiliki tradisi-tradisi yang baik, struktur, organisasi, dan cara berpikir yang membentuk kita dan menghasilkan buah yang baik. Ada kemungkinan bahwa kita akan menutup diri dengan “kepastian” kita, atau karena ketakutan serta terbatas pada hal-hal yang sangat sepele. Pengalaman akan krisis atau akan kekosongan bisa merupakan kesempatan untuk mempertanggungjawabkan bahwa perlu adanya perubahan dan menghindari untuk menjaga sangkar di mana burung-burungnya sudah terbang bebas.
Bisa jadi, seperti yang dialami para rasul, orang-orang yang berada di luar kelompok kita membawa pesan yang tepat. Untuk itu perlu bagi kita untuk selalu terbuka hati dan roh kita, dengan kerendahan hati untuk mendengarkan, dan menganalisa dan memikirkan ide-ide tanpa prasangka, karena kita bisa menemukan suara Tuhan di mana-mana. Hal ini menuntut pula kebebasan untuk merubah prosedur, metode, dan struktur, agar Sabda Allah tetap bergema di dalam dunia yang selalu berubah ini.
- Mendengarkan Sabda adalah juga merupakan saat yang menentukan, yaitu saat yang bisa kita sebut saat discernment: yaitu mengevaluasi situasi, salah satu murid itu sampai pada suatu kesimpulan yang mendasar: Itu Tuhan!
Sering terjadi bahwa bukan otoritas (dalam kasus di Injil ini Petrus) yang pertama-tama bisa mengenali kehadiran Sang Guru. Bukan itu yang penting! Yang menentukan adalah bahwa yang mempunyai otoritas juga memiliki perhatian terhadap anggota komunitasnya di mana Tuhan kadang menyatakan diri, dan sidap sedia untuk menerima masukan-masukan dan berani untuk masuk dalam air menemui Tuhan. Maka, yang lain akan mengikutinya dengan menarik pukat itu … dan pukatnya tidak koyak.
Perhatian terhadap yang lain didasarkan pada kebebasan Tuhan sendiri yang telah membuat kita menjadi bebas dan menjadi saudara. Dia jauh melebihi institusi-institusi yang mau menghadirkan-Nya: Dia tidak bisa dikurung di dalam sebuah organisasi, meskipun organisasi itu menjadikan Dia modelnya; Dia tidak terikat pada struktur tertentu, meski struktur itu harus mewnampilkan wajah-Nya. Dia membantu mereka yang memimpin kita, tetapi Dia pun dapat kita jumpai di dalam diri saudara-saudari kita. Oleh karena itu Kapitel ini adalah saat di mana otoritas normal berhenti fungsinya dalam Kongregasi. Hal ini berbeda dengan ide “demokrasi” – pengambilan kekuasaan oleh rakyat – tetapi merupakan saat bersama-sama untuk mendengarkan suara Allah.
Gambaran dari murid yang mengenali Tuhan, sebagaimana selalu dalam Injil Yohanes, membawa kita pada pusat misteri: dia adalah murid yang Yesus kasihi. Dengan ungkapan itu secara jelas mengungkapkan bahwa murid itu telah mengalami kasih Allah, dan dialah yang selalu siap untuk mengenali suara-Nya. Permenungannya didasarkan pada “ingatan dalam hatinya”, bisa menghadirkan masa lalu sebagai sumber pemahamannya, permenungannya dan usaha-usaha yang baru.
Sikap yang demikian adalah sikap fundamental untuk refleksi selama Kapitel ini. Tidak cukup hanya mendengarkan suara yang datang pada pertama kalinya. Discernment seharusnya dibuat secara bersama, berangkat dari “database” dalam hati kita melalui Injil yang kita terima dalam Gereja, melalui warisan spiritual Pater Dehon, melalui sejarah Kongregasi dan entitas-entitas, serta pengalaman personal masing-masing pribadi. Semua itu merupakan pengalaman iman kita akan kehadiran dan kasih Allah. Dan dia yang telah mengenali suara Gembala yang Baik itu, akan mengenali suara-Nya juga di mana saja dia berbicara.
Pada bagian kedua cerita Injil tadi menunjukkan pula titip pusat itu, pertemuan Yesus dengan Petrus. Dia telah mengalami kasih Tuhan, juga dalam kegagalan dan ketidaksetiaannya. Pengalaman itu membuat Petrus untuk menjawab “Iya” terhapat pertanyaan Yesus untuk ketiga kalinya: Simon, apakah engkau mengasihi Aku?
Dan masih dalam terang pengalaman kasih itu telah dirumuskan tugas perutusan Petrus: Gembalakanlah domba-domba-Ku. Tugas perutusan berasalah dari Kasih Kristus kepada kita. Dengan Dia kita bisa belajar untuk memberi perhatian terhadap saudara-saudara kita, memeliharanya, mengumpulkannya dan sesuai teladan Gembala Baik, yang sampai memberikan hidup-Nya bagi domba-domba-Nya.
Ini adalah juga pesan utama dalam bacaan pertama, yang merupakan dasar dan tema Kapitel kita ini. Dalam bacaan tadi, Paulus menampilkan Kasih Kristus sebagai titik tolaknya, pendorongnya, dan tujuan akhir dari adanya dan tugas perutusannya: Kasih Kristus mendorong kita.
Kita dapat mengatakan bahwa pernyataan itu mengandung inti karunia karismatis yang dibawa oleh Pater Dehon pada pendirian Kongregasi: Hati Kristus, pernyataan kasih Sang Putra kepada Bapa-Nya dan kasih Sang Penebus kepada manusia. Itu merupakan pusat misteri iman kristen; dan Pater Dehon menghendaki secara terang-terangan utnuk meninggalkan sebagai warisan identitas bagi para religiusnya: Aku tinggalkan warisan yang sungguh mengagumkan: Hati Yesus!
Itulah pusat dari “ingatan hati” untuk menganalisa hidup Kongregasi saat ini, dengan pandangan Yesus yang terang, penuh perhatian dan menghidupkan; Dia mengasihinya dalam pribadi-pribadi yang membentuknya. Dia mengundang kita untuk mengikuti pandangan-Nya, untuk menemukan segala sesuatu yang harus dipulihkan, membaca tanda-tanda zaman yang selalu berubah, memberi perhatian pada kebutuhan dunia dan Gereja, merencanakan dan memimpikan tugas perutusan-Nya dalam nama-Nya.
Dalam empat minggu ini Dia menunggu kita di pantai danau tugas perutusan kita. Dia ingin mempersatukan kita di sekitar Diri-nya, dan mengaruniakan karunia berlimpah dari Roh Bapa-Nya. Akan tetapi juga menuntut turut serta kita yang penuh persaudaraan dan kemurahan hati, sehingga “perjamuan” ini bisa menyuguhkan hidup baru dalam Kongregasi dan perutusan kita dalam Gereja dan dalam dunia.
Kita ringkaskan sikap-sikap para rasul yang pada hari ini ditampilkan di hadapan kita:
- Petrus, dalam kesungguhannya, semangatnya, serta dalam kelemahannya, karena kasih kesetiaan Yesus membuatnya seperti batu karang;
- Murid yang dikasihi, dekat dengan Hati Kristus, siap siaga utnuk mengenali suara Tuhan dalam hidup Gereja dan dunia;
- Paulus, yang terikat pada Kristus dan rasul para bangsa, yang mewartakan kasih Allah kepada semua suku dan bangsa.
Dan dari Maria, kita belajar untuk memiliki hati yang bisa mendengarkan suara Allah dan mewujudkannya dalam hidup kita dan dalam hidup Kongregasi.
****************
Demikian juga refleksi dan petunjuk-petunjuk tetang gaya, isi dan lingkup misi kita seharusnya mempunyai sebagai titik tolaknya adalah kesadaran Paulus sebagai “Duta Utusan” (atau nabi) cinta kasih Allah. Kasih-perutusan yang Paulus pelajari dari Kristus, terwujud dalam misteri solidaritasnya. Itu membuat Dia hadir, dan bisa membawa dari diri-Nya masalah-masalah dan dosa orang-orang lain, agar dapat membawa pemulihan, kedamaian dan harapan dalam diri Allah yang adil yang menyembuhkan dan menyelamatkan.
Dalam kasih itu terpusatlah panggilan dan perutusan kita. Kita berhadap pada Tuhan agar Kapitel ini bisa mencapai itu. Barang siapa berada dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru.